MEDIALAB

INDONESIA

22 September 2026

pH Air Limbah Tidak Sesuai: Apa yang Perlu Diperhatikan?

Pengujian pH sampel air limbah di laboratorium

Dalam pemantauan air limbah, pH menjadi salah satu parameter yang cukup sering diperiksa.

Angkanya terlihat sederhana. Namun, ketika hasil pH berada di luar rentang yang dipersyaratkan, penyebabnya tidak selalu dapat ditentukan hanya dari satu kali pengukuran.

Perubahan pH dapat berkaitan dengan bahan yang masuk ke sistem, aktivitas produksi, penggunaan bahan kimia, kondisi proses pengolahan, hingga kondisi pada saat pengukuran dilakukan.

Karena itu, ketika pH air limbah tidak sesuai, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:

“Bagaimana mengembalikan pH ke rentang yang dipersyaratkan?”

Tetapi juga:

“Apa yang menyebabkan pH berubah?”

Memahami penyebabnya akan membantu perusahaan melakukan evaluasi yang lebih tepat.

Apa Itu pH dalam Air Limbah?

pH menggambarkan tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan.

Secara umum:

pH lebih rendah → kondisi semakin asam

pH lebih tinggi → kondisi semakin basa atau alkalis

Sedangkan nilai di sekitar pH 7 menunjukkan kondisi mendekati netral.

Dalam pengolahan air limbah, pH penting bukan hanya sebagai parameter yang dibandingkan dengan baku mutu.

pH juga dapat memengaruhi proses kimia, aktivitas mikroorganisme, kelarutan senyawa, serta efektivitas tahapan pengolahan tertentu.

Karena itu, perubahan pH dapat menjadi informasi penting mengenai kondisi sistem pengolahan.

Berapa Baku Mutu pH Air Limbah?

Tidak ada satu angka yang sebaiknya digunakan untuk seluruh jenis air limbah tanpa melihat acuannya terlebih dahulu.

Pada sejumlah regulasi air limbah di Indonesia, rentang pH 6–9 digunakan sebagai persyaratan.

Namun, perusahaan sebaiknya tidak langsung menggunakan angka tersebut untuk seluruh kegiatan.

Baku mutu perlu dilihat berdasarkan:

  • Jenis usaha dan/atau kegiatan;

  • Sumber air limbah;

  • Jenis pembuangan atau pemanfaatannya;

  • Persetujuan Lingkungan;

  • Persetujuan Teknis apabila relevan; serta

  • Regulasi sektoral yang menjadi acuan.

Jadi, ketika mendapatkan hasil pH, pertanyaan pertama seharusnya bukan:

“Apakah masuk 6–9?”

tetapi:

“Berapa rentang pH yang berlaku untuk kegiatan dan titik penaatan ini?”

Apa yang Dapat Menyebabkan pH Air Limbah Terlalu Rendah?

pH rendah menunjukkan kondisi air limbah yang lebih asam.

Perubahan ini dapat berkaitan dengan berbagai faktor.

Perubahan proses produksi

Bahan atau proses tertentu dapat menghasilkan aliran air limbah dengan karakteristik lebih asam.

Jika komposisi atau volume aliran tersebut berubah, kondisi air limbah yang masuk ke IPAL juga dapat berubah.

Perubahan bahan baku atau bahan kimia

Pergantian bahan baku, bahan pembantu, maupun bahan kimia proses dapat memengaruhi karakteristik influen.

Karena itu, perubahan pH perlu dilihat bersama informasi mengenai aktivitas produksi pada periode yang sama.

Ketidakseimbangan proses pengolahan

Pada sistem pengolahan tertentu, perubahan kondisi proses dapat memengaruhi pH.

Sistem biologis, misalnya, memiliki kondisi lingkungan tertentu yang diperlukan agar aktivitas mikroorganisme dapat berlangsung dengan baik.

Gangguan pada sistem kontrol

Jika sistem pengaturan pH digunakan dalam proses pengolahan, perubahan performa peralatan, sensor, atau sistem kontrol juga perlu diperiksa.

Jadi, pH rendah tidak sebaiknya langsung disimpulkan berasal dari satu penyebab tertentu.

Penyebab pH Air Limbah Terlalu Tinggi

Lalu, Apa yang Bisa Menyebabkan pH Terlalu Tinggi?

Hal yang sama berlaku ketika pH berada pada kondisi terlalu basa.

Beberapa hal yang dapat dievaluasi antara lain:

  • Perubahan bahan atau proses produksi;

  • Masuknya aliran dengan karakteristik basa;

  • Perubahan penggunaan bahan kimia;

  • Kondisi unit pengolahan;

  • Proses pengaturan pH; serta

  • Kondisi operasi pada saat air limbah dihasilkan.

Penggunaan bahan kimia pengatur pH yang tidak sesuai dengan kebutuhan proses juga dapat menyebabkan kondisi terlalu asam maupun terlalu basa.

Karena itu, menambahkan bahan kimia tanpa terlebih dahulu memahami penyebab perubahan bukan merupakan pendekatan evaluasi yang ideal.

Mengapa pH Penting untuk Proses Biologis IPAL?

Banyak IPAL menggunakan proses biologis yang memanfaatkan mikroorganisme untuk membantu menguraikan bahan organik.

Mikroorganisme membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai agar dapat bekerja dengan baik.

Perubahan pH yang terlalu jauh dari kondisi proses yang sesuai dapat mengganggu aktivitas biologis.

Dampaknya kemudian dapat terlihat pada parameter lain.

Misalnya, jika proses biologis tidak berjalan sebagaimana mestinya, perubahan dapat muncul pada:

  • BOD;

  • COD;

  • Amonia;

  • Kondisi lumpur;

  • atau Parameter operasional lainnya.

Karena itu, pH tidak sebaiknya dilihat sebagai parameter yang berdiri sendiri.

Perubahan pH dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai perubahan kondisi proses.

pH Outlet Tidak Sesuai, Apakah Berarti IPAL Rusak?

Belum tentu.

Satu hasil pH di luar rentang acuan menunjukkan adanya kondisi yang perlu dievaluasi, tetapi belum cukup untuk menentukan bahwa seluruh IPAL mengalami kegagalan.

Evaluasi sebaiknya melihat keseluruhan aliran proses.

Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain:

Kondisi influen

Apakah karakteristik air limbah yang masuk berubah?

Aktivitas produksi

Apakah terdapat perubahan produk, kapasitas, bahan baku, atau kegiatan pembersihan?

Kondisi unit pengolahan

Apakah seluruh tahapan beroperasi sebagaimana mestinya?

Sistem pengaturan pH

Apakah sensor, kontrol, dan proses pengaturan bekerja dengan baik?

Parameter lain

Apakah perubahan pH terjadi bersamaan dengan perubahan COD, BOD, TSS, amonia, atau parameter lainnya?

Dengan melihat data tersebut bersama-sama, investigasi dapat dilakukan dengan lebih terarah.

Proses Pengukuran pH Air Limbah di lapangan

Mengapa Titik Pengukuran pH Penting?

Hasil pH juga perlu dikaitkan dengan lokasi pengukurannya.

pH pada influen belum tentu sama dengan pH setelah equalization, proses biologis, maupun outlet akhir.

Karena itu, ketika hasil digunakan untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap baku mutu, pengukuran perlu dilakukan pada titik penaatan yang memang menjadi acuan perusahaan.

Titik proses dapat digunakan untuk membantu evaluasi internal, tetapi tidak otomatis menggantikan titik penaatan.

Perbedaan ini penting.

Titik proses → membantu memahami kondisi IPAL.

Titik penaatan → digunakan sesuai kewajiban pemantauan dan evaluasi yang berlaku.

pH Termasuk Parameter yang Sensitif terhadap Waktu

Hal lain yang sering luput adalah waktu pengukuran.

Kondisi pH sampel dapat berubah setelah sampel diambil akibat perubahan keseimbangan kimia maupun aktivitas yang terjadi di dalam sampel.

Karena itu, pH termasuk parameter yang perlu mendapatkan perhatian khusus terhadap waktu dan cara pengukurannya.

Pada ketentuan tertentu, pengukuran pH bahkan dipersyaratkan dilakukan secara langsung pada titik penaatan.

Artinya, perusahaan tidak sebaiknya memperlakukan pH sama seperti seluruh parameter laboratorium yang sampelnya dapat disimpan dan dianalisis kemudian tanpa mempertimbangkan karakteristik parameternya.

Mengapa Hasil pH Lapangan dan Laboratorium Bisa Berbeda?

Perbedaan hasil tidak otomatis berarti salah satu pengukuran keliru.

Beberapa faktor dapat berpengaruh, misalnya:

  • Waktu antara pengambilan sampel dan pengukuran;

  • Perubahan temperatur;

  • Perubahan keseimbangan kimia;

  • Kondisi wadah dan sampel;

  • Kondisi serta kalibrasi alat;

  • Lokasi pengukuran; dan

  • Homogenitas sampel.

Karena itu, ketika membandingkan hasil pH, penting memastikan bahwa metode, lokasi, waktu, dan kondisi pengukurannya juga dapat dibandingkan.

Jangan Hanya Mengoreksi Angka

Misalnya hasil outlet menunjukkan pH di luar rentang yang dipersyaratkan.

Respons paling sederhana mungkin adalah segera melakukan koreksi pH.

Namun, apabila akar penyebabnya tidak ditemukan, kondisi serupa dapat kembali terjadi.

Pendekatan yang lebih baik adalah melihat alurnya:

sumber air limbah → kondisi influen → proses IPAL → kontrol pH → kondisi outlet → hasil monitoring.

Dengan demikian, koreksi tidak hanya dilakukan pada angka akhirnya, tetapi juga terhadap faktor yang menyebabkan perubahan tersebut.

Lihat Tren, Bukan Hanya Satu Hasil

Data historis sangat membantu.

Misalnya hasil monitoring menunjukkan:

Periode 1 → pH 7,2

Periode 2 → pH 7,0

Periode 3 → pH 6,7

Periode 4 → pH 6,3

Walaupun setiap hasil perlu dibandingkan dengan acuan yang berlaku, pola perubahan tersebut dapat memberikan informasi tambahan.

Ada kemungkinan terjadi perubahan bertahap pada:

  • Karakteristik influen;

  • Proses produksi;

  • Kondisi pengolahan;

  • atau Sistem pengaturan pH.

Dengan melihat tren, perusahaan mempunyai kesempatan melakukan evaluasi sebelum perubahan menjadi lebih besar.

pH Sesuai Belum Berarti Semua Parameter Sesuai

Ini juga penting.

Air limbah dengan pH yang berada dalam rentang baku mutu belum otomatis memenuhi seluruh persyaratan air limbah.

pH hanya satu parameter.

Parameter lain seperti COD, BOD, TSS, amonia, minyak dan lemak, logam, maupun parameter spesifik lainnya tetap perlu diperiksa apabila dipersyaratkan.

Sebaliknya, COD atau BOD yang memenuhi ketentuan juga tidak menggantikan kewajiban pH.

Setiap parameter memberikan informasi yang berbeda.

Apa yang Perlu Dilakukan Jika pH Tidak Sesuai?

Secara sederhana, evaluasi dapat dimulai dengan lima pertanyaan:

1. Acuan yang digunakan sudah tepat?

Pastikan rentang pH dibandingkan dengan baku mutu yang memang berlaku untuk kegiatan tersebut.

2. Titik pengukurannya benar?

Pastikan hasil berasal dari titik yang sesuai dengan tujuan monitoring.

3. Apakah kondisi produksi berubah?

Periksa perubahan aktivitas, kapasitas, bahan baku, dan penggunaan bahan kimia.

4. Bagaimana kondisi IPAL?

Evaluasi tahapan pengolahan dan data operasional pada periode yang sama.

5. Apakah parameter lain juga berubah?

Bandingkan pH dengan COD, BOD, TSS, amonia, debit, atau parameter lain yang relevan.

Dengan pendekatan tersebut, hasil pH menjadi bagian dari proses evaluasi, bukan sekadar angka yang harus dikoreksi.

pH Adalah Parameter Sederhana, tetapi Informasinya Penting

pH merupakan salah satu parameter paling dasar dalam pemantauan air limbah, tetapi informasinya dapat memberikan banyak petunjuk mengenai kondisi proses.

Ketika pH terlalu tinggi atau terlalu rendah, perusahaan sebaiknya tidak langsung menyimpulkan penyebabnya.

Periksa kembali:

sumber → proses produksi → influen → pengolahan → titik pengukuran → hasil → acuan.

Dengan memahami rangkaian tersebut, evaluasi dapat dilakukan secara lebih sistematis.

PT Medialab Indonesia mendukung kegiatan sampling dan pengujian air limbah untuk berbagai kebutuhan pemantauan lingkungan.

Penentuan parameter, titik sampling, metode pengukuran, serta acuan baku mutu perlu disesuaikan dengan jenis kegiatan, karakteristik air limbah, dokumen lingkungan, dan regulasi yang berlaku bagi masing-masing perusahaan.

Referensi

  • Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2025 tentang Baku Mutu Air Limbah dan Standar Teknologi Pengolahan Air Limbah untuk Air Limbah Domestik.

  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2025 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Tekstil.

  • Ketentuan baku mutu air limbah sektoral dan Persetujuan Teknis yang berlaku bagi masing-masing usaha dan/atau kegiatan.